Rupiah Melemah, Harga Kebutuhan Pokok Diperkirakan Naik
Sukabumi, 25 Mei 2026 – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan barang impor di Indonesia. Berdasarkan pantauan nilai tukar, kurs dolar AS telah menyentuh sekitar Rp17.728 per USD. Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak pada naiknya harga barang yang berkaitan dengan impor, distribusi, dan biaya produksi. Sejumlah Barang Diprediksi Naik
Beberapa kebutuhan pokok yang berpotensi mengalami kenaikan harga antara lain: beras, minyak goreng, telur, daging ayam, gula, cabai, bawang merah, hingga tempe dan tahu. Selain itu, barang elektronik seperti HP, laptop, TV, serta kendaraan dan suku cadang juga diperkirakan ikut terdampak karena banyak menggunakan komponen impor dan transaksi dolar. Pengamat ekonomi menilai kenaikan dolar membuat biaya impor bahan baku menjadi lebih mahal. Dampaknya kemudian merambat ke biaya produksi dan distribusi. BBM dan Transportasi Ikut Tertekan Pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi sektor energi dan transportasi. Harga BBM, LPG, ongkos kirim, hingga tiket transportasi bisa mengalami tekanan kenaikan apabila harga minyak dunia ikut meningkat. Kenaikan biaya transportasi dinilai akan mempercepat kenaikan harga sembako di pasaran karena distribusi barang menjadi lebih mahal. Dampak Bagi Masyarakat Menengah ke Bawah Masyarakat menengah ke bawah diperkirakan menjadi kelompok yang paling terdampak akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebab sebagian besar penghasilan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika harga bahan pokok terus naik: uang belanja semakin cepat habis, biaya sekolah dan transportasi meningkat, usaha kecil kesulitan membeli bahan baku, serta daya beli masyarakat menurun. Pedagang kecil, buruh harian, ojek, petani, dan pekerja informal dinilai paling merasakan dampaknya karena pendapatan tidak naik secepat harga barang. Beberapa warga juga mulai khawatir terhadap kemungkinan: pengurangan pengeluaran rumah tangga, meningkatnya utang konsumsi, hingga bertambahnya angka kemiskinan apabila kondisi ekonomi terus memburuk. Komentar Aktivis JAMI Aktivis Jaringan Masyarakat Indonesia, Herman Ahong, menilai pemerintah harus segera mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar masyarakat kecil tidak semakin terbebani. “Hari ini yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil. Ketika dolar naik, harga kebutuhan ikut naik, sementara pendapatan masyarakat tidak ikut naik. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” ujar Herman Ahong. Ia juga meminta pemerintah memperkuat pengawasan distribusi bahan pokok serta menjaga kestabilan harga di pasar agar tidak terjadi lonjakan yang memberatkan masyarakat menengah ke bawah. Menurutnya, apabila kondisi rupiah terus melemah tanpa pengendalian yang baik, maka usaha kecil dan sektor informal akan semakin kesulitan bertahan di tengah kenaikan biaya hidup. Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Ekonom meminta pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat produksi dalam negeri, dan mengendalikan impor agar tekanan harga tidak semakin besar. Pemerintah bersama Bank Indonesia saat ini terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga kondisi ekonomi nasional tetap terkendali.
